Teori Depresi
Prevalensi depresi meningkat selama masa remaja. Rata-rata tahunan hampir mendekati 9 persen anak-anak muda usia 12 hingga 17 tahun memiliki pengalaman setidaknya satu episode mengalami depresi dan hanya sekitar 40 persennya telah dirawat (National Survey on Drug Use and Health [NSDUH], 2008). Angka pada umumnya meningkat sesuai bertambahnya usia. Depresi pada orang muda tidak selalu tampak sebagai bentuk kesedihan, tetapi juga mudah marah, kejenuhan atau ketidakmampuan untuk menikmati rasa senang. Salah satu alasan depresi memerlukan penanganan serius adalah karena menimbulkan bahaya bunuh diri (Brent & Birmaher, 2002).
Standar dan tujuan personal yang tinggi dapat berakibat pada pencapaian dan kepuasan diri. Akan tetapi saat manusia menempatkan suatu tujuan yang terlalu tinggi, mereka memiliki kemungkinan untuk gagal yang lebih tinggi. Kegagalan sering berakibat terhadap depresi, dan orang-orang depresi sering menurunkan nilai pencapaian mereka sendiri. Hasilnya adalah kesedihan kronis, perasaan tidak berharga, perasaan tidak memiliki tujuan, dan depresi yang bertahan. Bandura (1986, 1997) yakin bahwa depresi disfungsi dapat terjadi dalam salah satu dari tiga subfungsi regulasi diri : (1) observasi diri, (2) proses penilaian, dan (3) reaksi diri.
Penyebab Depresi
Remaja putri, terutama yang matang lebih awal, ternyata lebih depresi dibandingkan remaja putra (Brent & Birmaher, 2002; Ge, Conger, & Elder, 2001; SAMHSA, 2005; Stice, Presnell, & Bearman, 2001). Perbedaan gender ini mungkin terkait dengan perbedaan biologis yang berhubungan dengan pubertas; studi menunjukkan hubungan antara pubertas dini dengan gejala depresi (Susman & Rogol, 2004). Faktor lain yang memungkinkan adalah cara anak perempuan bersosialisasi (Birmaher dkk, 1996) dan kerentanan mereka untuk menjadi stress dalam hubungan sosial (Ge dkk, 2001; Hankin, Mermelstein, & Roesch, 2007).
Ditambahkan untuk gender perempuan faktor-faktor resiko untuk depresi seperti diabetes atau epilepsy, konflik hubungan orang tua dan anak, dilecehkan atau diabaikan, penggunaan alcohol dan obat-obatan, aktivitas seksual, dan memiliki orang tua dengan sejarah depresi. Penggunaan alkohol dan obat-obatan serta aktivitas seksual ternyata memicu depresi pada anak perempuan dari pada anak laki-laki (Brent & Birmaher, 2002; Halfors, Waller, Bauer, Ford, & Halpern, 2005; SAMHSA, 2005; Waller dkk, 2006). Masalah citra tubuh dan gangguan makan dapat memperburuk gejala depresi (Stice & Bearman, 2001).
Depresi disfungsi menurut Bandura yang pertama, saat observasi diri orang dapat salah dalam menilai performa mereka sendiri atau mendistorsi ingatan mereka mengenai pencapaian di masa lalu. Orang-orang depresi cenderung umtuk membesar-besarkan kesalahan mereka di masa lalu, dan mengecilkan pencapaian mereka terdahulu, suatu kecenderungan yang akan meningkatkan depresi mereka.
Kedua, orang-orang depresi lebih mungkin melakukan penilaian yang salah. Mereka menentukan standar yang tidak realistis dan sangat tinggi, sehingga pencapaian pribadi apapun akan dinilai sebagai kegagalan. Walaupun mereka telah mencapai kesuksesan di mata orang lain, mereka terus mengkritik performa mereka. Depresi lebih mungkin terjadi pada mereka yang menentukan tujuan dan standar personal yang jauh lebih tinggi daripada persepsi kemampuan mereka untuk mencapai hal-hal tersebut.
Terakhir, reaksi diri dari orang-orang depresi cukup berbeda dari mereka yang tidak depresi. Orang-rang depresi tidak hanya menilai diri mereka dengan keras, mereka juga cenderung memperlakukan diri mereka dengan buruk karena keterbatasan-keterbatasan mereka.
Analisis
Depresi adalah masalah psikologis yang dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya karena konflik dengan seseorang, merasa di kucilkan, diabaikan, dilecehkan, dan lain-lain. Orang-orang yang depresi merasa putus asa yang terlalu dalam dan merasa dirinya tidak berguna. Orang yang depresi cenderung menarik diri dari lingkungan, tidak melakukan aktivitas selayaknya orang pada umumnya, merasa tertekan dan terus menerus menganggap rendah dirinya. Dikatakan juga bahwa seseorang yang depresi dikarenakan memiliki suatu tujuan yang lebih tinggi dari standar yang ia miliki.
Remaja putri yang mengalami masa pubertas lebih awal memiliki risiko depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja putra. Hal ini dikarenakan perubahan fisik maupun hormonal yang terjadi pada saat pubertas dipersepsikan secara berbeda oleh remaja perempuan dan laki-laki. Pada remaja putri, memiliki penilaian negatif terhadap tubuhnya,mereka sering merasa tidak puas pada tubuhnya, merasa dirinya gemuk, tidak menarik, dan wajahnya tidak cantik. Sebaliknya, remaja putra mempersepsikan hal itu secara positif. Menurut Steinberg (2002), remaja putri memiliki hormon oxytocin yang lebih tinggi dibanding putra. Hal ini menyebabkan remaja putri memiliki ketertarikan yang lebih tinggi pada hubungan interpersonal. Tingginya intensitas untuk berhubungan dengan orang lain, membuat remaja putri lebih tergantung pada orang lain yang dianggap dapat memberikan dukungan sosial. Akibatnya, remaja putri lebih peka terhadap penolakan orang lain, mudah merasa tidak puas dengan hubungan interpersonal, sehingga kondisi ini diyakini sebagai resiko munculnya depresi.
Depresi memiliki gejala seperti berikut :
Rasa sedih atau cemas yang terus menerusRasa putus asa dan pesimisRasa bersalah, merasa tidak berharga Kehilangan minat atau kesenangan atas hobi atau aktivitas yang sebelumnya disukai Energi lemah, kelelahan, menjadi lambatSulit berkonsentrasi, mengingat dan memutuskanSulit tidur (insomnia) atau tidur yang berlebihan (hypersomnia) Sulit makan atau terlalu banyak makan (menjadi kurus atau kegemukan) Tidak tenang dan gampang tersinggung Sakit kepala, masalah pencernaan dan nyeri kronis yang terus menerusBerpikir ingin mati atau bunuh diri
Depresi dapat dicegah dengan cara selalu berpikiran positif, berolahraga dan dan selalu menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif.
Referensi :
Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory.
Engewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Bandura, A (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman.
Feist, G. J., & Feist, J. (2010). Theories of personality 7th ed. Jakarta: Salemba Humanika
Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014).Experience human development 12thed. Jakarta:
Salemba Humanika.
Kamis, 28 Mei 2015
Hubungan Kesehatan Mental dengan Kecerdasan Emosional
Kesehatan mental menurut seorang ahli kesehatan Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Kecerdasan emosional Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage ouremotional life with intelligence), menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan sosial.
Salovey dan Mayer menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah sebuah himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau serta mengendalikan perasaan dan emosi, baik pada diri sendiri maupun pada diri orang lain, serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Dalam hubungan kesehatan mental dengan kecerdasan emosional sangat berpengaruh. Ketika individu dengan intelegensi yang tinggi namun kecerdasan emosi individu yang rendah sangat mempengaruhi kesehatan mental tersebut. Ketika emosi sedang memuncak dan kita tidak bisa menahan emosi tersebut maka bisa berpengaruh terhadap mental kita. Misalkan : pada saat marah kita marah dan terus marah seluruh tubuh kitapun ikut marah biasanya bagian bagian organ juga ikut lebih bergerak seperti jantung. Jantung kita akan semakin berdetak lebih cepat. Jika jantung terus bergerak lebih cepat akan mengganggu kesehatan mental itu sendiri. Emosi juga sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan, tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika seseorang memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi daripada akal sehat.
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia dan Ketika kita bertahan menghadapi frustrasi, dapat mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mampu mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, serta dapat berempati dan selalu berdoa maka dapat juga berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Mental akan sehat, hidup akan mudah dan merasa puas, sehat dan bahagia.
Daftar Pustaka :
Dewi, Kartika Sari. (2012) Buku Ajar Kesehatan Mental. Semarang : Universitas Dipenogoro
Sarwono, Sarlito W. (2012) Pengantar Psikologi Umum. Cet 4. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Kecerdasan emosional Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage ouremotional life with intelligence), menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan ketrampilan sosial.
Salovey dan Mayer menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah sebuah himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau serta mengendalikan perasaan dan emosi, baik pada diri sendiri maupun pada diri orang lain, serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Dalam hubungan kesehatan mental dengan kecerdasan emosional sangat berpengaruh. Ketika individu dengan intelegensi yang tinggi namun kecerdasan emosi individu yang rendah sangat mempengaruhi kesehatan mental tersebut. Ketika emosi sedang memuncak dan kita tidak bisa menahan emosi tersebut maka bisa berpengaruh terhadap mental kita. Misalkan : pada saat marah kita marah dan terus marah seluruh tubuh kitapun ikut marah biasanya bagian bagian organ juga ikut lebih bergerak seperti jantung. Jantung kita akan semakin berdetak lebih cepat. Jika jantung terus bergerak lebih cepat akan mengganggu kesehatan mental itu sendiri. Emosi juga sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan, tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika seseorang memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi daripada akal sehat.
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia dan Ketika kita bertahan menghadapi frustrasi, dapat mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mampu mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, serta dapat berempati dan selalu berdoa maka dapat juga berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Mental akan sehat, hidup akan mudah dan merasa puas, sehat dan bahagia.
Daftar Pustaka :
Dewi, Kartika Sari. (2012) Buku Ajar Kesehatan Mental. Semarang : Universitas Dipenogoro
Sarwono, Sarlito W. (2012) Pengantar Psikologi Umum. Cet 4. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Kamis, 26 Maret 2015
Sejarah Kesehatan Mental Psikologi
SEJARAH
Zaman Prasejarah
Setelah dilakukan banyak penelitian ternyata diketahui sejak dahulu, manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll.
Zaman peradaban awal
Kematian Galen (130 – 200 M), sebagai dokter terakhir pada masa klasik Yunani menandai dimulainya Zaman Kegelapan bagi dunia medis dan bagi perawatan serta studi tentang perilaku abnormal. Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul. Pada Zaman Pertengahan dan Renaissance (400 – 1500 M), kalangan gereja dan Kristen meluaskan pengaruhnya. Gangguan mental kembali dihubungkan dengan pengaruh spiritual dan supranatural (Demonologi). Para pemuka agama pada masa itu melakukan suatu upacara untuk mengeluarkan pengaruh roh jahat dari tubuh seseorang. Metode tersebut dinamakan exorcism.
Perwakilan Gereja Katolik Roma meyakini bahwa penyihir membuat perjanjian dengan iblis, mempraktekkan ritual setan dan melakukan tindakan-tindakan mengerikan seperti memakan bayi dan meracuni hasil panen. Pada tahun 1484, Pope (Paus) Innocent VIII meminta kepada para pendeta di Eropa untuk mencari para tukang sihir dan mengumumkan hukuman mati bagi penyihir. Selama dua abad berikutnya, lebih dari 100.000 orang yang dituduh sebagai tukang sihir telah dibunuh.
Di Swedia, pada tahun 1649, Queen Christina memerintahkan untuk membebaskan semua tukang sihir kecuali mereka yang benar-benar terbukti melakukan pembunuhan. Di Perancis, tahun 1682, Raja Louis XIV mengeluarkan dekrit tentang pembebasan tukang sihir. Eksekusi terakhir terhadap tukang sihir dilakukan di Swiss pada tahun 1782. Sampai akhir Zaman Pertengahan, semua penderita gangguan mental dianggap sebagai tukang sihir.
Era Pra Ilmiah
Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.
Era Modern
Konsep baru tentang gangguan dan penyakit mental muncul dalam Revolusi Amerika dan Perancis sebagai bagian dari proses pencerahan (renaisans) bidang rasionalisme, humanisme dan demokrasi politik. Orang gila (insane) kemudian dianggap sebagai orang sakit. Chiarugi di Italia dan Muller di Jerman menyuarakan tentang treatment rumah sakit yang lebih humanis. Tetapi perwujudan konsep baru dalam bidang ini dipelopori oleh Phillipe Pinel (1745 – 1826).
Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. 1812 Benjamin Rush menjadi salah satu pengacara yang mula-mula menangani masalah penyakit mental secara humanis. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur dengan air. Rush melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut melalui penulisan artikel-artikel. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan. Publikasinya yang berjudul ”Medical Inquiries and Observations Upon Diseases of The Mind” menjadi buku teks psikiatri Amerika yang pertama.
1842 Psikiater mulai masuk Rumah Sakit dan berperan, menggantikan para ahli hukum. 1908 Clifford Beers (mantan penderita manik depresif), menulis buku “A Mind that Found Itself” yang berisi tentang pengalamannya sebagai pasien mental dan menceritakan kekejaman di Rumah Sakit. Mendirikan Masyarakat Connecticut untuk Mental Health yang kemudian berubah menjadi Komite Nasional untuk Kesehatan Mental (The National Committee for Mental Hygiene). Bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. 1910 Emil Kraepelin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Mengembangkan alat tes untuk mendeteksi gangguan epilepsi. 1918 Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya lulusan kedokteran dan yang menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon peserta pelatihan psikoanalisa. 1930-an Psikiater mulai menginjeksikan insulin sebagai treatment pasien skizofrenia. Hal ini menyebabkan shock dan koma sementara.
Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation forMental Health dan The World Health Organization.
PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN MENTAL Menurut Schneiders prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
Kartini Kartono berpendapat ada tiga prinsip pokok secara umum untuk mendapatkan kesehatan mental, yaitu:
a) Pemenuhan kebutuhan pokok
Setiap individu selalu memiliki dorongan-dorongan dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bersifat organis (fisik dan psikis) dan yang bersifat sosial. Kebutuhan- kebutuhan dan dorongan-dorongan itu menuntut pemuasan. Timbullah ketegangan ketegangan dalam usaha pencapaiannya. Ketegangan cenderung menurun jika kebutuhan- kebutuhan terpenuhi, dan cenderung naik/makin banyak jika mengalami frustasi atau hambatan-hambatan.
b) Kepuasan
Setiap orang menginginkan kepuasan, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat rohaniah. Dia ingin merasa kenyang, aman, terlindung, ingin puas dalam hubungan seksnya, ingin mendapat simpati dan diakui harkatnya. Intinya ia ingin puas di segala bidang, lalu timbullah Sense of Importancy dan Sense of Mastery, (kesadaran nilai dirinya dan kesadaran penguasaan) yang memberi rasa senang, puas dan bahagia.
c) Posisi dan status social
Setiap individu selalu berusaha mencari posisi sosial dan status sosial dalam lingkungannya. Tiap manusia membutuhkan cinta kasih dan simpati. Sebab cinta kasih dan simpati menumbuhkan rasa diri aman/assurance, keberanian dan harapan-harapan di masa mendatang. Orang lalu menjadi optimis dan bergairah. Oleh karena itu individu-individu yang mengalami gangguan mental, biasanya merasa dirinya tidak aman. Mereka senantiasa dikejar-kejar dan selalu dalam kondisi ketakutan. Dia tidak mempunyai kepercayaan pada diri sendiri dan hari esok, jiwanya senantiasa bimbang dan tidak seimbang.
Seseorang itu dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu:
PENGGOLONGAN KESEHATAN MENTAL
Y Gangguan Somatofarm
Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organik dan faktor-faktor psikologis.
Y Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.
Y Gangguan Psikoseksual
Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.
Y Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.
Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.
Y Gangguan kepribadian
Pola prilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.
Y Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja.
Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.
Y Gangguan jiwa organic
Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.
Y Gangguan penggunaan zat-zat
Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.
Y Gangguan Skisofrenik
Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan prilaku kacau dan aneh.
Y Gangguan Paranoid
Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.
Y Gangguan Afektif
Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.
Y Gangguan Kecemasan
Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.
Pengaruh Budaya Terhadap Konsep Kesehatan
DAFTAR PUSTAKA
Zaman Prasejarah
Setelah dilakukan banyak penelitian ternyata diketahui sejak dahulu, manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, dll.
Zaman peradaban awal
- Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental)
- Hypocrates (Ia berpendapat penyakit / gangguan otak adalah penyebab penyakit mental)
- Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa)
Kematian Galen (130 – 200 M), sebagai dokter terakhir pada masa klasik Yunani menandai dimulainya Zaman Kegelapan bagi dunia medis dan bagi perawatan serta studi tentang perilaku abnormal. Pada zaman ini di beberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul. Pada Zaman Pertengahan dan Renaissance (400 – 1500 M), kalangan gereja dan Kristen meluaskan pengaruhnya. Gangguan mental kembali dihubungkan dengan pengaruh spiritual dan supranatural (Demonologi). Para pemuka agama pada masa itu melakukan suatu upacara untuk mengeluarkan pengaruh roh jahat dari tubuh seseorang. Metode tersebut dinamakan exorcism.
Perwakilan Gereja Katolik Roma meyakini bahwa penyihir membuat perjanjian dengan iblis, mempraktekkan ritual setan dan melakukan tindakan-tindakan mengerikan seperti memakan bayi dan meracuni hasil panen. Pada tahun 1484, Pope (Paus) Innocent VIII meminta kepada para pendeta di Eropa untuk mencari para tukang sihir dan mengumumkan hukuman mati bagi penyihir. Selama dua abad berikutnya, lebih dari 100.000 orang yang dituduh sebagai tukang sihir telah dibunuh.
Di Swedia, pada tahun 1649, Queen Christina memerintahkan untuk membebaskan semua tukang sihir kecuali mereka yang benar-benar terbukti melakukan pembunuhan. Di Perancis, tahun 1682, Raja Louis XIV mengeluarkan dekrit tentang pembebasan tukang sihir. Eksekusi terakhir terhadap tukang sihir dilakukan di Swiss pada tahun 1782. Sampai akhir Zaman Pertengahan, semua penderita gangguan mental dianggap sebagai tukang sihir.
Era Pra Ilmiah
- 1. Kepercayaan Animisme
- 2. Kepercayaan Naturalisme
Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.
Era Modern
Konsep baru tentang gangguan dan penyakit mental muncul dalam Revolusi Amerika dan Perancis sebagai bagian dari proses pencerahan (renaisans) bidang rasionalisme, humanisme dan demokrasi politik. Orang gila (insane) kemudian dianggap sebagai orang sakit. Chiarugi di Italia dan Muller di Jerman menyuarakan tentang treatment rumah sakit yang lebih humanis. Tetapi perwujudan konsep baru dalam bidang ini dipelopori oleh Phillipe Pinel (1745 – 1826).
Perubahan luar biasa dalam sikap dan cara pengobatan gangguan mental terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika pada tahun 1783. Ketika itu Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staf medis di rumah sakit Pensylvania. 1812 Benjamin Rush menjadi salah satu pengacara yang mula-mula menangani masalah penyakit mental secara humanis. Di rumah sakit ini ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics (orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu sedikit sekali pengetahuan tentang penyebab dan cara menyembuhkan penyakit tersebut. Akibatnya pasien-pasien dikurung dalam ruang tertutup, dan mereka sekali-kali diguyur dengan air. Rush melakukan suatu usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut melalui penulisan artikel-artikel. Secara berkesinambungan, Rush mengadakan pengobatan kepada pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan. Publikasinya yang berjudul ”Medical Inquiries and Observations Upon Diseases of The Mind” menjadi buku teks psikiatri Amerika yang pertama.
1842 Psikiater mulai masuk Rumah Sakit dan berperan, menggantikan para ahli hukum. 1908 Clifford Beers (mantan penderita manik depresif), menulis buku “A Mind that Found Itself” yang berisi tentang pengalamannya sebagai pasien mental dan menceritakan kekejaman di Rumah Sakit. Mendirikan Masyarakat Connecticut untuk Mental Health yang kemudian berubah menjadi Komite Nasional untuk Kesehatan Mental (The National Committee for Mental Hygiene). Bahkan karena jasanya itu ia dinobatkan sebagai The Founder of the Mental Hygiene Movement. Dia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
Pada tahun 1909, gerakan mental Hygiene secara formal mulai muncul. 1910 Emil Kraepelin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer. Mengembangkan alat tes untuk mendeteksi gangguan epilepsi. 1918 Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa hanya lulusan kedokteran dan yang menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon peserta pelatihan psikoanalisa. 1930-an Psikiater mulai menginjeksikan insulin sebagai treatment pasien skizofrenia. Hal ini menyebabkan shock dan koma sementara.
Secara hukum, gerakan mental hygiene ini mendapat pengakuan pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani The National Mental Health Act., yang berisi program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
Pada tahun 1950, organisasi mental hygiene terus bertambah, yaitu dengan berdirinya National Association for Mental Health. Gerakan mental hygiene ini terus berkembang sehingga pada tahun 1975 di Amerika terdapat lebih dari seribu perkumpulan kesehatan mental. Di belahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui The World Federation forMental Health dan The World Health Organization.
PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN MENTAL Menurut Schneiders prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
- Prinsip Berdasarkan Hakikat Manusia
- Kesehatan mental dan penyesuaian diri tergantung kondisi jasmani yang baik dan integritas organisme.
- Untuk memelihara kesehatan mental dan penyesuaian diri, maka perilaku individu harus sesuai dengan hkikat kemanusiaannya. sebagai mahluk yang memiliki moral, intelektual, agama, emosional dan sosial.
- Kesehatan mental dan penyesuaian diri dapat dicapai melalui integrasi dan kontrol diri baikdengan cara berfikir, memuaskan keinginan, mengekspresikan keinginan dan bertingkah laku.
- Dalam mencapai dan memelihara kesehatan mental dan penyesuaian diri, perlu memperluas pengetahuan tentang diri sendiri.
- Kesehatan mental memerlukan konsep diri: pengetahuan dan sikap trehadap kondisi fisik dan psikis diri sendiri secara sehat, yang meliputi: penerimaan diri dan penghargaan terhadap status diri ssendiri secara relistik atus wajar.
- Untuk mencapai kesehatan mental dan penyesuaian diri, maka pemahaman diri atau self inside dann penerimaan diri, perlu idisertai dengan upaya-upaya perbaikan diri dan perwujudan diri.
- Kestabilan mental dan penyesuaian diri yang baik dapat dicapai dengan pengembangan moral yang luhur dalam diri sendiri, seperti sikap adil, hati-hati, integritas pribadi, rendah hati dan kejujuran.
- Pencapaian dan pemeliharaan kesehatan mental dan penyesuaian diri bergantung pada penanaman dan pengembangan kebiasaan yang baik.
- Kestabilan mental dan penyesuaian diri menuntut adanya kemampuan melakukan perubahan sesuai dengan keadaan (kondisi lingkuangan) dan kepribadian
- Kesehatan mental dan penyesuaian diri memerlukan usaha terus menerus untuk mencapai kematangan berpikir, mengekspresikan emosi dan melakukan tindakan.
- Kesehatan mental dan penyesuaian diri dapat dicapai dengan belajar mengatasi konflik dan frustasi serta ketegangan-ketegangan secara efektif.
Kartini Kartono berpendapat ada tiga prinsip pokok secara umum untuk mendapatkan kesehatan mental, yaitu:
a) Pemenuhan kebutuhan pokok
Setiap individu selalu memiliki dorongan-dorongan dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang bersifat organis (fisik dan psikis) dan yang bersifat sosial. Kebutuhan- kebutuhan dan dorongan-dorongan itu menuntut pemuasan. Timbullah ketegangan ketegangan dalam usaha pencapaiannya. Ketegangan cenderung menurun jika kebutuhan- kebutuhan terpenuhi, dan cenderung naik/makin banyak jika mengalami frustasi atau hambatan-hambatan.
b) Kepuasan
Setiap orang menginginkan kepuasan, baik yang bersifat jasmaniah maupun yang bersifat rohaniah. Dia ingin merasa kenyang, aman, terlindung, ingin puas dalam hubungan seksnya, ingin mendapat simpati dan diakui harkatnya. Intinya ia ingin puas di segala bidang, lalu timbullah Sense of Importancy dan Sense of Mastery, (kesadaran nilai dirinya dan kesadaran penguasaan) yang memberi rasa senang, puas dan bahagia.
c) Posisi dan status social
Setiap individu selalu berusaha mencari posisi sosial dan status sosial dalam lingkungannya. Tiap manusia membutuhkan cinta kasih dan simpati. Sebab cinta kasih dan simpati menumbuhkan rasa diri aman/assurance, keberanian dan harapan-harapan di masa mendatang. Orang lalu menjadi optimis dan bergairah. Oleh karena itu individu-individu yang mengalami gangguan mental, biasanya merasa dirinya tidak aman. Mereka senantiasa dikejar-kejar dan selalu dalam kondisi ketakutan. Dia tidak mempunyai kepercayaan pada diri sendiri dan hari esok, jiwanya senantiasa bimbang dan tidak seimbang.
Seseorang itu dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu:
- Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
- Memiliki integrasi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup termasuk stress.
- Mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
- Mampu bersosialisasi atau menerima kehadiran orang lain.
- Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan.
- Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
- Pengawasan diri atau memiliki kontrol terhadap segala keinginan yang muncul.
- Memiliki perasaan benar dan sikap bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.
PENGGOLONGAN KESEHATAN MENTAL
Y Gangguan Somatofarm
Gejalanya bersifat fisik, tetapi tidak terdapat dasar organik dan faktor-faktor psikologis.
Y Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi-fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas yang disebabkan oleh masalah emosional.
Y Gangguan Psikoseksual
Termasuk masalah identitas seksual (impotent, ejakulasi, pramatang, frigiditas) dan tujuan seksual.
Y Kondisi yang tidak dicantumkan sebagai gangguan jiwa.
Mencakup banyak masalah yang dihadapi orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti perkawinan, kesulitan orang tua, perlakuan kejam pada anak.
Y Gangguan kepribadian
Pola prilaku maladaptik yang sudah menahun yang merupakan cara-cara yang tidak dewasa dan tidak tepat dalam mengatasi stres atau pemecahan masalah.
Y Gangguan yang terlihat sejak bayi, masa kanak-kanak atau remaja.
Meliputi keterbelakangan mental, hiperaktif, emosi pada kanak-kanak, gangguan dalam hal makan.
Y Gangguan jiwa organic
Terdapat gejala psikologis langsung terkait dengan luka pada otak atau keabnormalan lingkungan biokimianya sebagai akibat dari usia tua dan lain-lain.
Y Gangguan penggunaan zat-zat
Penggunaan alkohol berlebihan, obat bius, anfetamin, kokain, dan obat-obatan yang mengubah prilaku.
Y Gangguan Skisofrenik
Serangkaian gangguan yang dilandasi dengan hilangnya kontak dengan realitas, sehingga pikiran, persepsi, dan prilaku kacau dan aneh.
Y Gangguan Paranoid
Gangguan yang ditandai dengan kecurigaan dan sifat permusuhan yang berlebihan disertai perasaan yang dikejar-kejar.
Y Gangguan Afektif
Gangguan suasana hati (mood) yang normal, penderita mungkin mengalami depresi yang berat, gembira yang abnormal, atau berganti antara saat gembira dan depresi.
Y Gangguan Kecemasan
Gangguan dimana rasa cemas merupakan gejala utama atau rasa cemas dialami bila individu tidak menghindari situasi-situasi tertentu yang ditakuti.
Pengaruh Budaya Terhadap Konsep Kesehatan
Pengertian
kesehatan menurut WHO tampaknya juga mengalami perkembangan menjadi
kompleks. Kemudian WHO juga mendefinisikan kesehatan sebagai: “…keadaan
(status) sehat utuh secara fisik, mental(rohani) dan social, dan bukan
hanya suatu keadaan yang bebas dari penakit, cacat dan kelemahan …….”(smet,
1994). Adapun pengertian tersebut menyebabkan kebijakan di bidang
keshatan mengalami perubahan dahulu segala upaya dilakukan dngan tujuan
untuk menyembuhkan/mengobati penyakit.stelah berbagai macam dan
berbagai macam temuan teknologi di upayakan dapat kearah penyembuhan.
Yang akibatnya berbagai teknologi modern diketemukan sehingga berbagai
macam penyakt dan gangguan lainnya bisa diatasi
Pergeseran
teknologi modern tersebut membuka peluang bagi lmu – ilmu social
umumnya dan ilmu – ilmu perilaku. Khususnya untuk memberikan sumbangan
bagi upaya – upaya tersebut. Dan bidang – bidang baru sudah mulai
bermunculan, seperti sosiologi kesehatan, anthropologi kesehatan,
psikologi kesehatan, dan masih banyak lagi
Perhatian
mengenai kesehatan dalam kaitannya dengan keanekaragaman budaya juga
menjadi salah satu bidang kajian yang diminati oleh psikologi lintas
budaya(berry, 1999)
Sebagai
perbandingan, bidang psikologi (kepribadian) sekarang ini mengembangkan
pandangan yang baru mengenai apa yang disebut sebagai “kepribadian
sehat”. Pandangan ini berbeda dengan pandangan psikologi yang
tradisionalis (misalnya psikoanalisa dan behaviorisme) dalam memandang
kodrat manusia. Pada psikologi tradisionalis, konsep tentang sehat
kurang lebih mirip dengan konsep mengenai kesehatan seperti yang
dikemukakan diatas yaitu, tidak adanya gejala – gejala yang cukup untuk
memasukan individu kedalam kategori gangguan (kepribadian) tertentu.
Atau dengan kata lain, kepribadian sehat yang mempunyai titik tolak dari
apakah individu tersebut berbeda dari mereka yang nyta – nyata
terganggu atau tidak. Di lihat dari sudut pandang statistik, kepribadian
sehat adalah kepribadian individu umumnya, yang bila digambarkan secara
statistik berada didalam kurva normal, sementara kepribadian yang tidak
sehat adalah kepribadian yang berada di luar kurve normal tersebut.
Oleh
karena itu, untuk membedakan pengertian sehat yang dipakai oleh umum
dengan sehat yang betul – betul sehat, pandangan ini memprkenalkan
“adisehat”atau “adinormal” untuk mengelompokkan orang – orang yang
berbeda dari masyarakat umumnya tetapi yang betul – betul mampu
mengaktualkan segenap potensi yang dimilikinya (Schultz, 1993).
3. model – model kesehatan : antara model barat dan timur
Menurut
eisenberg (helman, 1990). Yang dimaksud dengan model adalah cara dapat
merekonstruksi realita, memberikan makna kepada fenomena- fenomena alam
yang pada dasarnya bersifat chaos. Sekali model telah di tetapkan, model
tersebut akan bertindak melakukan verifikasi terhadap model itu sendiri
dengan cara mengeluarkan atau mengabaikan fenomena yang berada di luar
sudut pandang pengguna model tersebut.
Model
sangat berguna dalam memahami suatu realita, tapi karena sifatnya yang
cenderung melakukan simplikasi terhadap realita yang sebenarnya
kompleks, maka dimungkinkan adanya bermacam – macam model untuk memahami
realita yang sama.
Kemudian
pada bidang kesehatan terdapat dua model utama dalam memahami
kesehatan, yaitu model barat dan model timur. Kedua model tersebut
memang dipengaruhi oleh budaya barat dan budaya timur yang jelas pada
dasarnya memiliki perbedaan besar. Namun didalam model – model tersebut
tersenndiri terdapat variasi yang dapat disebabkan karena adanya
perbedaan budaya di antara kedua model tersebut.
Model
kesehatan barat dapat dibedakan menjadi bebeapa macam, yaitu model
biomedis atau juga sering disebut sebagai model medis (joesoef, 1990;
freund, 1991; helman, 1990; tamm, 1993). Model psikiatris(helman, 1990)
dan model psikosomatis (tamm, 1993)’ model kesehatan timur umumnya
disebut model kesehatan holistic(joesoef, 1990) yang menekankan pada
keseimbangan (helman, 1990).
Model biomedis berakar
jauh pada pengobatan tradisional yang berada di yunani. Pengobatan ini
dipengaruhi oleh filosofi yunani, terutama dari pemikiran plato dan
aristoteles yang bersifat abstrak dan sistematis serta dijalankan dengan
rasional dan logis.konsepsi mengenai dunia pada dasarnya bersifat
dualistik sehingga manusia dapat dibedakan menjadi fisiologis(fisik) dan
psikologi(jiwa). Cara pandang yang sedemikian ini memengaruhi dunia
barat sampai beberapa abad kemudian. Yang dapat ditemui kembali jejaknya
pada Descartes.
Perkembangan
ilmu biologi yang pesat, lebih – lebih degan diketemukannya virus dan
bakteri sebagai sumber terjadinya penyakit. Menyebabkan model biomedis
ini berkembang dengan sangat pesat dan memengaruhi konsep manusia
mengenai kesehatan dibarat. Sejak itu penyakit dan kesehatan semata –
mata dihubungkan dengan kebutuhan fisiolois saja.berbagai upaya
dilakukan untuk menjadikan tubuh tetap sehat.
Model biomedis (freund 1991) memiliki 5 asumsi :
Asumsi
yang pertama adalah bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh
dan jiwa sehingga penyakit diyakikni beada pada suatu bagian tubuh
tertentu.
Asumsi
kedua adalah penyakit dapat di reduksi pada gangguan fungsi tubuh,
entah secara biokimia atau neurofisiologis(physical reductionism).
Asumsi
ketiga adalah keyakinan bahwa setiap penyakit disebabkan oleh suatu
agen khusus yang secara potensial dapat diidentifikasi(specific
etiology)
Asumsi keempat adalah melihat tubuh sebagai suatu mesin (sama dengan keterangan sebelumnya )
Asumsi
kelima adalah mempunyai konsep bahwa tubuh adalah obyek yang perlu
diatur dan dikontrol.dan adapun asumsi ini merupakan kelanjutan dari
asumsi bahwa tubuh adalah suatu mesin yang perlu mendapatkan
pemeliharaan.
Model
psikiatris (helman, 1990), sebenarnya masih berkaitan dengan modl
biomedis. Model ini pada dasarnya masih mendasari diri pada pencarian
bukti – bukti fisik dari suatu penyakit dan penggunaan treatmen
fisik(obat – obatan atau pembedahan) untuk mengoreksi abnormalitas. Naun
model ini menunjukan dengan jelas adanya modl – model yang saling
bertentangan yang digunakan oleh psikiater yang berbeda untuk
menjelaskan gangguan psikosis. Model – model tersebut meliputi : model
organic yang menekankan pada perubahan fisik dan biokimia di otak; model
psikodinamik yang berkonsentrasi pada factor –faktor pekembangan dan
pengalaman; model behavioral yang menyatakan bahwa psikosis terjadi
karena banyak kemungkinan lingkungan; dan model social yang menekankan
gangguan dalam rangka performanya.
Model
psikosomatis (tamm, 1993), merupakan model yang muncul kemudian karena
adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini dikembangkan
oleh Helen flanders dunbar sekitar tahun 1930an.model ini muncul setelah
jurang anta aspek – aspek biologis dan psikologis terjembatani oleh
karya Sigmund freud (ketidaksadaran0, ivan Pavlov (respon terkondisi,
dan WB cannon (reaksi serang dan kabur). Gerakan psikosomatik ini
dimulai di jerman dan Austria pada tahun 1920an,menyebar kebanyak Negara
di eropa, kemudian dengan adanya migrasi ke amerika (seperti frans
Alexander) minat terhadap gangguan psikosomatik ini pun turut terbawa
kesana.
Model
psikosomatik ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatic yang tanpa
disebabkan oleh ateszenden emosional dan atau social. Sebaliknya tidak
ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom – simtom somatic
Menurut
model psikosomatik ini, penyakit berkembang melalui saling terkait
secara berkesinambungan antara factor fisik dan mental yang saling
memperkuat satu sama lain melalui jaringan yang kompleks. Penyembuhan
penyakit diasumsikan terjadi melalui cara yang sama juga.
DAFTAR PUSTAKA
- Dr. Kartini Kartono. 1989. Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam. Bandung: CV Mandar Maju.
- Hasan Langgulung. 1986. Teori-Teori Kesehatan Mental. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
- Moeljono Notosoedirjo, Latipun. 2000. Kesehatan Mental. Universitas Muhammadiyah Malang.
- http://yudiantara.wordpress.com/2009/01/20/kesehatan-mental/
- http://fajarhakim.blogspot.com/2012/03/kesehatan-mental-softskill.html
Jumat, 09 Januari 2015
Dampak Sosial dari Interaksi Manusia dan Internet
PSIKOLOGI DAN INTERNET DALAM LINGKUP TRANSPERSONAL
(Dampak Sosial dari Interaksi Manusia dan Internet)
Manusia dan Internet merupakan sebuah interaksi yang sangat melekat pada masa kini, manusia sangat membutuhkan internet untuk kebutuhan sehari-hari. Internet sangat universal untuk interaksi manusia baik untuk pekerjaan, tugas sekolah atau kuliah, maupun komunikasi untuk kepentingan pribadi. Internet kini sangat mudah diakses dan terjangkau untuk kalangan masyarakat bawah hingga atas, semua orang bisa dengan mudah mengakses internet kapan saja serta dimana saja. Internet sangat berpengaruh terhadap pekerjaan, karena internet memang sangat menguntungkan untuk penggunanya. Teknologi internet sangat mempengaruhi perilaku manusia, dimana teknologi ini dapat menghubungkan antara satu komputer dengan komputer lain dibelahan dunia lain. Penggunaan internet sebagai salah satu cara untuk mengurangi loneliness. Pada individu yang mengalami loneliness apabila ia banyak menghabiskan waktu banyak waktu sendirian di depan computer baik di kantor maupun dirumahnya maka orang tersebut akan menyediakan waktu lebih sedikit untuk hubungan tatap muka di dunia nyata dan mengurangi kesempatannya untuk berinteraksi dengan orang lain.
Dampak Internet Terhadap Masyarakat Luas Dari Berbagai Tinjauan Bidang Psikologisnya
Kemajuan teknologi saat ini semakin mempermudah semua orang untuk mengakses internet, kini internet tidak lagi hanya dapat diakses melalui komputer, akses internet melalui handphone juga semakin mudah. Kemudahan ini mempunyai dampak yang sangat besar efeknya, baik efek positif maupun efek negatif. Efek positif yang didapat karena semakin mudahnya akses internet antara lain adalah masyarakat akan menjadi lebih aware dan pintar karena informasi yang tersedia di internet, kesenjangan informasi juga akan semakin berkurang karena semua orang bisa mendapat informasi yang sama melalui internet, akan tetapi akan selalu ada dua sisi dari seemua hal, efek negatif dari internet pun tidak kalah besar dari efek positif yang diberikan. Kemudahan akses internet apabila tidak diawasi penggunaannya akan berakibat fatal, karena bisa saja informasi-informasi yang kurang baik atau bahkan informasi yang salah bisa diakses oleh orang-orang yang tidak bisa menyaring informasi tersebut kemudian mempunyai dampak yang besar tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi orang lain disekitarnya. Apabila ditinjau dari segi positif terhadap psikologis seseorang internet mempunyai dampak sebagai berikut:
a. Membuat masyarakat menjadi lebih inovatif dan kreatif karena mudahnya akses informasi yang diberikan internet.
b. Membuat masyarakat lebih sadar mengenai hal-hal yang terjadi disekitarnya.
c. Mengikis kesenjangan informasi antara masyarakat desa dan kota, karena masyarakat desa pun kini bisa mengakses informasi yang sama dengan masyarakat yang ada di perkotaan.
Sedangkan segi negatif yang diberikan internet dilihat dari psikologisnya adalah sebagai berikut:
a. Mengikis kecintaan masyarakat kepada budaya aslinya, akses mudah yang diberikan internet mengenai dunia luar bisa mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat.
b. Mempengaruhi pola pikir masyarakat menjadi sekularisme.
c. Merusak moral mayarakat dengan banyaknya situs porno dan perjudian.
Peran Internet
a. Mediasi
Mediasi adalah upaya penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yang netral, yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan yang membantu pihak-pihak yang bersengketa mencapai penyelesaian (solusi) yang diterima oleh kedua belah pihak.
b. Model of Consciousness
Model of Consciousness adalah penjelasan teoritis yang menghubungkan antara bagian kesadaran dalam otak manusia dan fenomena kesadaran. Meskipun teori mengenai model of consciousness sangat beragam, namun benang merah dari semua pendekatan yang beragam tersebut adalah mempelajari korelasi antara aktivitas otak dan aspek kesadaran manusia.
c. Collective Unconsciousness
Adalah bagian dari psikoanalisis yang dikemukakan oleh Carl Jung, collective unconsciousness adalah bagian dari unconscious mind yang terdapat di dalam manusia dan semua bentuk kehidupan yang memiliki sistem saraf, dan menjelaskan bagaimana struktur dari psyche secara otomatis mengorganisir berbagai macam pengalaman
Contoh Dampak Sosial Interaksi Manusia dan Internet Dari Berbagai Tinjauan Bidang Psikologisnya
Dari Michelle Weil, seorang psikolog dan pengarang buku terkenal.
Seorang gadis yang di jauhi teman-temannya lalu kemudian menghabiskan waktu untuk mojok dan berchatting ria dengan menampilkan karakter yang sangat kontradiktif dengan karakter aslinya. Akibatnya, lama kelamaan ia semakin jauh dengan teman-temannya, bahkan tidak bisa menerima diri apa adanya. Menurut Eric Fromm, kondisi ini dinamakan neurosis. Jika kondisi ini berkepanjangan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang serius. Michelle menambahkan, bahaya latennya adalah terbentuknya kepribadian online yang beda dengan aslinya.
Sumber :
Tabel Tim Penyusun
No
|
NPM
|
Nama
|
Kinerja
|
Link
|
1
|
11513472
|
ASYIFA ALAFI ANDARI ARYA
|
Peran internet
| |
2
|
12513852
|
ELAN HANDAYANA
|
Penjelasan hubungan manusia dan internet
| |
3
|
13513982
|
HAWA ANINDITA BUDIARGA
|
Dampak internet dalam bidang psikologis segi Positif
| |
4
|
15513286
|
MARIA THAHERA
|
Contoh dampak sosial interaksi manusia dan internet
| |
5
|
16513753
|
OCTAVIA PURI LESTARI
|
Penjelasandampak internet dalam bidang psikologis
| |
6
|
16513626
|
NUR RASIANA PUTRI
|
Dampak internet dalam bidang psikologis segi negatif
|
Sabtu, 29 November 2014
Computer Supported Cooperative Work (CSCW)
|
No
|
NPM
|
Nama
|
Kinerja
|
Link
|
|
1
|
11513472
|
ASYIFA ALAFI ANDARI
ARYA
|
Pengertian
|
|
|
2
|
12513852
|
ELAN HANDAYANA
|
Sejarah
|
|
|
3
|
13513982
|
HAWA ANINDITA
BUDIARGA
|
Tujuan
|
|
|
4
|
15513286
|
MARIA THAHERA
|
Interaksi
|
|
|
5
|
16513753
|
OCTAVIA PURI LESTARI
|
Groupware
|
|
|
6
|
16513626
|
NUR RASIANA PUTRI
|
Contoh - contoh
|
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INTERNET DALAM LINGKUP INTRAPERSONAL
Computer
Supported Cooperative Work (CSCW)
CSCW
adalah kependekan dari “Computer
Supported Cooperative Work”. CSCW merupakan pemahaman cara orang bekerja
dalam kelompok dengan teknologi yang memungkinkan jaringan komputer, dan
terkait perangkat keras, perangkat lunak, layanan dan teknik. Pada tahun
1984 : Konsep CSCW diperkenalkan oleh Irene Greif dan Paul M. Cashman.
Mereka menggabungkan kerja koperasi individu melalui jaringan, hardware,
software dan lain-lain dengan tujuan untuk memberikan perbaikan yang identik
untuk beberapa individu yanng berkerja pada produksi yag sama atau berbeda processes.
Pada tahun 1987 : Dr.
Charles Findley mempresentasikan konsep Collaborattive Learning-Work.
Menurut Carstensen dan Schmidt, alamat CSCW “ Bagaimana kegiatan kerja
sama dan koordinasi mereka dapat didukung deng cara sistem komputer. “ Di satu
sisi banyak penulis menganggap bahwa CSCW dan groupware adalah
sinonim. Disisi lain ada juga yang mengklaim bahwa groupware mengacu
pada sistem berbasis komputer nyata, sedangkan CSCW berfokus pada studi alat
dan teknik groupware serta efek psikologis, sosial, dan organisasi
mereka.
Pada tahun
1991 : Wilson mengungkapkan perbedaan antara
dua konsep. CSCW adalah sebuah istilah generik yang menggabungkan pemahaman
cara orang berkerja dalam kelompok dengan teknologi yang memungkinkan jaringan
komputer dan perangkat keras yang terkait, perangakat lunak , layanan dan
teknik.
Tujuan CSCW:
1. Mempelajari bagaimana orang bekerja
sama sebagai kelompok dan apa yang mempengaruhi teknologi.
2. Mendukung proses pelaksanaan
pekerjaan walaupun secara geografis dipisahkan.
CSCW lebih berorientasi kepada
evaluasi terhadap hal-hal yang terjadi dalam proses interaksi antar manusia
dalam sekelompok pengguna. Interaksi tersebut antara lain:
a. Komunikasi yang normal antar manusia
Dibagi atas
dua yaitu:
- Komunikasi face-to-face
Pada
komunikasi ini, tidak hanya meliputi bicara dan pendengaran, tapi juga
menggunakan bahasa tubuh dan tatapan mata. Misalnya:
-
Personal
Space
-
Kontak
dan tatapan mata
-
Gerak
isyarat dan bahasa tubuh
-
Back
channel
-
Turn-taking
- Percakapan
Terdapat dua
prinsip ucapan antara lain:
-
relevan
artinya bahwa suatu ucapan harus sesuai dengan topik tertentu.
-
helpful
artinya suatu ucapan harus dapat dimengerti oleh pendengar dan tidak ada ambigu
dari pemahaman pendengar.
b. Komunikasi berbasis teks
Ada 4 tipe
komunikasi tekstual dalam groupware:
-
discrete;
pesan langsung seperti dalam:
~
Electronic
Mail
(email)
Merupakan system CSCW yang bersifat
asynchronous yang tidak mengharuskan user bekerja pada waktu yang bersamaan.
Penerima email tidak harus membuka suratnya pada waktu yang sama dengan
terkirimnya surat.
-
linear;
pesan partisipan ditambahkan pada akhir dari catatan tunggal
-
non-linear;
saat pesan dihubungkan ke yang lainnya dalam model hypertext
-
spatial;
dimana pesan diatur dalam permukaan dua dimensi.
Hasil
CSCW biasanya disebut Groupware. Groupware adalah jenis software yang membantu
kelompok kerja yang terhubung ke jaringan untuk mengelola aktifitas mereka. Groupware dapat diklasifikasi dalam
beberapa cara, salah satunya adalah dimana dan kapan seseorang peserta
mengikuti kerja kelompok. Hal ini dapat diringkas dalam matriks time/space.
Dimensi space dapat juga suatu dimensi secara geografis dan dibagi dalam
co-located (tempat yang sama) dan remote (tempat yang berbeda). Contoh e-mail
dan video conferencing yang bekerja pada jarak yang jauh. Sumbu time dibagi
menjadi system synchronous dan asynchronous. Contoh telepon merupakan
komunikasi remote synchronous dan post-it notes merupakan suatu asynchronous
co-located. Gambar di bawah ini menunjukkan suatu cooperative work yang
mendukung pembahasan
·
Computer-mediated communication: Mendukung komunikasi antar
partisipan
·
Meeting and decision support systems: Menangkap pemahaman secara
umum.
·
Shared application and artifacts: Mendukung interaksi
partisipan dengan berbagi pekerjaan.
Sumber:
Langganan:
Postingan (Atom)